RESUME JURNAL “PEMANFAATAN RUMPUT LAUT SEBAGAI SUMBER SERAT PANGAN UNTUK MENURUNKAN KOLESTEROL DARAH TIKUS”
TUGAS PKKMB
RESUME JURNAL
“PEMANFAATAN RUMPUT LAUT
SEBAGAI SUMBER SERAT PANGAN UNTUK MENURUNKAN KOLESTEROL DARAH TIKUS”

DISUSUN OLEH :
24030204156
UNIVERSITAS
NEGERI SURABAYA
2024
|
Judul Jurnal |
: |
Pemanfaatan Rumput Laut sebagai Sumber Serat Pangan
untuk Menurunkan Kolesterol Darah
Tikus |
|
Volume |
: |
Vol. 12, No. 1 |
|
Tahun |
: |
2005 |
|
Penulis |
: |
Made Astawan,
Tutuk Wresdiyati, Anzs Budy Hartanta |
|
Latar Belakang |
: |
Penyakit kardiovaskuler (PKV) merupakan penyakit
yang paling sering menjadi penyebab kematian dan kecacatan di negara-negara
berkembang . Di Indonesia angka kejadian PKV menunjukkan
peningkatan dari tahun ke tahun. PKV sebagai penyebab kematian nomor tiga untuk
usia di atas 40 tahun dan kemudian menjadi nomor satu pada tahun 1995
untuk usia 35-44 tahun . |
|
Tujuan |
: |
Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui efek fisiologis serat pangan dari tepung rumput laut yang
ditambahkan ke dalam ransum terhadap profil total kolesterol, LDL, high
density lipoprotein, trigliserida, indeks atherogenik serum, serta
kadar kolesterol digesta tikus. |
|
Bahan dan Metode |
: |
Objek
Penelitian. Rumput
laut yang digunakan adalah rumput laut spesies Eucheuma cottonii yang
diperoleh dari Kepulauan Seribu. Tikus percobaan yang dipakai dalam
penelitian ini adalah strain Sprague-Dawley, jantan berumur + 8 minggu
dengan berat badan antara 95-100 gram. Bahan
Ransum Tikus. Bahan-bahan
ransum tikus percobaan terdiri dari TRL dan selulosa sebagai sumber serat, minyak
jagung sebagai sumber lemak, kasein sebagai sumber protein, kolesterol murni,
campuran mineral, campuran vitamin, air, dan pati jagung sebagai sumber
karbohidrat. Perlakuan. Tikus diadaptasikan
dengan ransum standar selama tujuh hari, setelah itu diberikan ransum
yang mengandung 1% kolesterol . Setelah 40 hari
perlakuan, kadar kolesterol serum diuji dengan mengambil darah dari
empat ekor tikus yang dipilih secara acak. Ransum dan air minum
diberikan setiap hari selama 35 hari secara ad libitum. Penimbangan
jumlah ransum sisa dilakukan setiap hari, sedangkan penimbangan berat
badan tikus dilakukan setiap dua hari sekali. Analisis
Kolesterol Darah. Tikus percobaan yang telah dibius dengan kloroform
dibedah untuk diambil darahnya melalui jantung sebanyak + 3 ml dengan menggunakan
alat suntik volume 5 ml. Darah disentrifuse untuk mendapatkan serum. Analisis TRL. Analisis
proksimat TRL mengacu kepada yaitu meliputi: kadar air , kadar
abu , kadar protein , dan
lemak . Kadar serat pangan, meliputi
serat larut air , serat tidak larut air , dan serat
pangan total dilakukan dengan teknik multi-enzim . Rancangan Percobaan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan
rancangan acak lengkap. Uji beda Duncan hanya dilakukan bila perlakuan
memberikan pengaruh yang nyata (p<0.05) atau sangat nyata (p<0.01). |
|
Hasil |
: |
Kadar Serat Pangan. TRL mengandung protein, lemak, mineral,
dan vitamin. Serat pangan TRL terdiri atas serat pangan larut air, tidak
larut air, dan serat pangan total. Kadar serat pangan tidak larut memiliki
proporsi yang lebih besar yaitu 43.2% dibandingkan serat pangan larut sebesar
38.8%. Analisis ransum tikus juga menunjukkan bahwa kandungan
serat pangan tidak larut lebih besar dibandingkan serat larut. Pertumbuhan
Tikus. Selama percobaan berlangsung terjadi kenaikan berat
badan yang berbeda untuk setiap perlakuan . Kenaikan
berat badan tertinggi diperoleh pada perlakuan kontrol negatif sebesar 168%, diikuti
perlakuan 10% TRL sebesar 164%, 5% TRL
sebesar 158%, dan kontrol positif sebesar 152%. Namun
dari hasil tersebut tidak terdapat perbedaan berat badan yang signifikan di
antara grup perlakuan selama percobaan. Hal tersebut
menunjukkan bahwa penambahan TRL ke dalam ransum tidak berpengaruh terhadap
pertumbuhan tikus percobaan. Profil
Kolesterol. Rata-rata kadar kolesterol serum tikus sebelum
perlakuan adalah 76.33 + 8.65 mg/dl. Setelah diberi
ransum yang mengandung 1% kolesterol, maka kadar
kolesterol serum tikus perlakuan menjadi 149.67 + 1.25 mg/dl. Dengan
demikian terjadi peningkatan kadar kolesterol sebesar 96%. Selama perlakuan
TRL, penambahan 1% kolesterol ke dalam ransum tetap dilakukan untuk
mempertahankan kondisi hiperkolesterolemia tikus, kecuali
pada grup kontrol negatif. Total Kolesterol
Serum. Tikus yang diberi perlakuan 10%TRL mempunyai kadar
kolesterol serum paling rendah . Selanjutnya
diikuti grup 5% TRL , grup kontrol negatif , dan grup
kontrol positif. Low Density
Lipoprotein . Grup perlakuan yang memiliki kadar LDL
terendah sampai tertinggi berturut-turut adalah perlakuan 10% TRL , 5%
TRL , kontrol negatif , dan
kontrol positif . Dibandingkan grup kontrol positif, maka
penambahan 5% dan 10% TRL mampu menurunkan kadar LDL masing-masing sebesar 59.59% dan 71.63%. High Density
Lipoprotein . Kadar HDL terendah terdapat pada grup
kontrol positif , diikuti grup kontrol negatif , grup 5%
TRL dan tertinggi pada perlakuan 10% TRL . Grup
perlakuan 5% dan Trigliserida. Kandungan
trigliserida serum tikus terendah sampai tertinggi berturut-turut diperoleh
pada perlakuan 10%TRL , kontrol negatif , perlakuan
5%TRL , dan kontrol positif . Indeks
Atherogenik . IA merupakan indikator untuk mengetahui
resiko aterosklerosis yang merupakan penyebab utama penyakit jantung
koroner . Nilai IA terendah dimiliki grup perlakuan 10% TRL
yaitu sebesar 1.9, diikuti grup perlakuan 5% TRL sebesar 2.9, grup
kontrol negatif sebesar 4.1, dan tertinggi dicapai oleh grup kontrol
positif sebesar 10.2. Kolesterol
Digesta. Kadar kolesterol digesta, yaitu
yang terdapat pada sekum tikus. Dengan makin tinggi kadar TRL di dalam
ransum, maka semakin tinggi kadar kolesterol di dalam digesta tikus
percobaan . Berat Sekum. Berat
sekum pada grup kontrol positif sebesar 2.1 g, grup
kontrol negatif sebesar 2.2 g, grup 5%TRL sebesar 4.4 g, dan grup
10% TRL sebesar 5.7 g. |
|
Pembahasan |
: |
Penambahan
5% dan 10% TRL dalam ransum tikus menurunkan kadar total kolesterol serum
secara signifikan dibandingkan dengan kontrol positif. Namun, tidak ada
pengaruh signifikan terhadap kontrol negatif. Penurunan kadar kolesterol
disebabkan oleh penurunan penyerapan kolesterol dari usus halus akibat laju
digesta yang lebih cepat. TRL mengandung komponen seperti agar,
karagenan, dan asam alginat yang membantu dalam menurunkan penyerapan
kolesterol. Serat tinggi juga dapat meningkatkan ekskresi lemak, asam
empedu, dan kolesterol. Secara keseluruhan, penambahan TRL dalam ransum
membantu menurunkan kadar total kolesterol pada tikus dengan kondisi
hiperkolesterolemia. Penelitian
pada manusia menunjukkan adanya penurunan kolesterol plasma akibat pengaruh
serat pangan, dengan pemberian 20 gram/hari serat pada pasien
hiperkolesterolemia menyebabkan penurunan total kolesterol, LDL, serta rasio
LDL-HDL plasma. Terdapat empat mekanisme penurunan kolesterol oleh
serat, yaitu pengikatan asam empedu di usus halus, penurunan absorpsi lemak
dan kolesterol, penurunan laju absorpsi karbohidrat, dan penghambatan
sintesis kolesterol. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penambahan
TRL ke dalam ransum dapat menurunkan kadar LDL serum tikus. Studi ini
menyimpulkan bahwa penambahan serat pada diet manusia dapat menurunkan kadar
LDL, karena 65% kolesterol berada dalam bentuk LDL. Demikianlah,
penelitian ini menunjukkan bahwa penurunan total kolesterol akan mempengaruhi
penurunan kadar LDL melalui penghambatan proses penyerapan kolesterol di
usus. Penelitian
ini menunjukkan bahwa penambahan TRL ke dalam ransum tikus dapat meningkatkan
kadar HDL serum meskipun tidak signifikan. HDL berfungsi membantu
mengangkut kolesterol dari jaringan periferal menuju ke hati, sehingga
rendahnya kadar HDL dalam plasma dapat meningkatkan risiko penyakit jantung
koroner. Selain itu, penambahan TRL juga dapat menurunkan kadar
trigliserida serum dan indeks atherogenik tikus. Peningkatan HDL sangat
bermanfaat untuk menurunkan resiko atherosklerosis, karena kolesterol pada
HDL relatif rendah. |
|
Kesimpulan |
: |
Dari
penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penambahan TRL ke dalam ransum tikus hiperkolesterolemia
dapat menurunkan kolesterol total, LDL, trigliserida dan indeks menggunakan
tikus percobaan sebagai model, tetapi hasilnya dapat diekstrapolasikan ke manusia.
Artinya, fenomena yang terjadi pada tikus hiperkolesterolemia juga akan berlaku
pada manusia hiperkolesterolemia. Namun demikian jika akan diterapkan pada
manusia, perlu dilakukan beberapa modifikasi disesuaikan dengan bobot tubuh manusia
dan perbedaan sifat-sifat biologis. |
Komentar
Posting Komentar